Ahad, 6 Januari 2013 Ba'da Dzuhur Qiro'ah bersama M. Zein
Ahad, 6 Januari 2013 Jam 08.00 Tafsir Qur'an bersama KH. Ahmad Naqib Noor, AH.
Hari Jum'at, 4 Januari 2013 Jam 19.30 Istighosah Khoiro Ummah (Setiap Jum'at Awwal) bersama Drs. KH. Dzikron Abdullah Rotib Haddad - Sholawat Kubro - Do'a Ukasyah - Mau'idhoh Chasanah
SELAYANG PANDANG MASJID AGUNG SEMARANG DARI DOELOE HINGGA SEKARANG I. PENDAHULUAN MASJID AGUNG SEMARANG, adalah Masjid tertua di kota Semarang - ibukota Jawa Tengah - memiliki sejarah panjang dan terkait erat dengan sejarah berdirinya kota Semarang. Masjid yang telah menjadi cagar budaya dan harus dilindungi menjadi kebanggaan warga Semarang karena bangunannya yang khas, mencerminkan jatidiri masyarakat pesisir yang lugas tetapi bersahaja. Seperti halnya pada Masjid-masjid kuno di pulau Jawa, Masjid Agung Semarang berada di pusat kota (Alun-alun) dan berdekatan dengan pusat pemerintahan (kanjengan) dan penjara, serta tak berjarak jauh dari pusat perdagangan (pasar Johar), merupakan ciri khas dari tata ruang kota pada jaman dahulu.

Alun-alun depan Masjid Agung Semarang tampak luas dan asri belum ada bangunan di atasnya dan masih digunakan untuk jalur trem.antar-kota. Pengaruh Walisongo pada masa perkembangan Islam di tanah Jawa yang begitu kuat, memengaruhi ciri arsitektur Masjid Agung Semarang. Ini semua bisa dilihat dari atap Masjid yang berbentuk tajug tumpang (tingkat) tiga. Arsitektur ini juga mirip dengan Masjid Agung Demak yang dibangun pada masa Kesultanan Demak. Atap tingkat tiga merupakan representasi dari makna filosofi Iman, Islam, dan Ikhsan. Berbeda dengan Masjid Agung Demak, Atap Masjid Agung Semarang dibungkus dengan bahan seng bergelombang, pada waktu itu merupakan bahan yang langka dan secara khusus harus didatangkan dari Belanda. Masjid Agung Semarang memilii ciri arsitektur Jawa yang khas, dengan bentuk atapnya menyiratkan bangunan gaya Majapahit, bertingkat tiga yang merupakan penggambaran Iman, Islam dan Ikhsan. Bagian tajug paling bawah menaungi ruangan ibadah. Tajug kedua lebih kecil, sedangkan tajug tertinggi berbentuk limasan. Semua tajug ditopang dengan balok-balok kayu jati berstruktur modern. Yang membedakan lagi, bangunan utama Masjid Demak disangga empat soko guru, sedang atap Masjid Agung Semarang ditopang 36 soko (pilar) yang kokoh. Atap Masjid terbuat dari bahan seng yang saat itu merupakan bahan langka dan secara khusus didatangkan dari Belanda. Sampai sekarang, atap seng masih terpelihara dan menjadi salah satu ikon Masjid. Ujung atap limasan diberi hiasan mustaka yang memiliki filosofi derajat tertinggi yang ingin dicapai manusia,

Foto kuno Masjid dengan bentuk atap bertingkat tiga dan ujungnya limasan. Atap terbuat dari bahan seng yang saat itu merupakan bahan langka Di ruangan Masjid, terdapat mihrab yang terlihat runcing dengan langit-langit dari beton, terdapat mimbar imam yang terbuat dari kayu jati dilengkapi ornamen ukir yang indah. Konon pada jaman dahulu mimbar ini dibuat sepasang, salah satunya untuk tempat sholat Bupati Semarang. Sementara pintunya berbentuk rangkaian daun waru, melambangkan arsitektur khas Persia atau Arab. Kompleks Masjid dibatasi pagar tembok dan pagar besi. Entrance utama berupa gerbang masuk gapura (tepatnya di Jl. Alun-alun Barat) dan pada samping (tepatnya pada Jl. Kauman) terdapat pintu gapuro yang lebih kecil.

Gapuro Masjid diresmikan pada tahun 1905, pada dindingnya terdapat empat prasasti dalam empat bahasa : Arab, Melayu, Jawa dan Belanda Masjid Agung Semarang memiliki peranan penting dalam penyebaran agama Islam di kota Semarang, Bahkan Masjid ini juga dianggap sebagai simbol perbauran masyarakat, Sebab, di sekitar Alun-alun dekat Masjid kala itu bermukim warga dari berbagai etnis. Di sebelah utara yang berbatasan dengan Kali Semarang dan pelabuhan, merupakan perkampungan warga etnis Arab dan Koja. Di sebelah barat bermukim etnis Melayu dan sebelah selatan bermukim etnis Jawa yang membaur ke timur bersama etis China. Hingga kini, di sekitar Masjid masih terdapat kawasan Pecinan Semarang. Dengan fakta itu, Masjid Agung Semarang menjadi rumah suci pemersatu umat. Dalam sejarah pergerakan dan perjuangan bangsa Indonesia, Masjid Agung Semarang juga juga menyimpan cerita yang menarik. Masjid ini menjadi satu-satunya masjid di Indonesia yang mengumumkan kemerdekaan bangsa Indonesia secara terbuka hanya beberapa saat setelah diproklamirkan. Seperti diketahui Proklamasi dibacakan oleh Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta di Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta pada hari Jum’at, pukul 10.00 pagi. Lebih kurang satu jam setelah itu yaitu pada saat sebelum sholat Jum’at, Proklamasi kemerdekaan RI diumumkan di Masjid Agung Semarang secara terbuka melalui mimbar Jum’at dan bahkan direlay secara langsung oleh “Semarang Hoso Kyoku” (sekarang RRI Semarang). Sebagai penghargaan atas peristiwa tersebut pada tahun 1952, Presiden RI pertama Ir. H. Soekarno menyempatkan diri hadir untuk melakukan sholat Jum’at dan berpidato di Masjid ini. Mengingat pentingnya Masjid Agung Semarang maka perlu disusun buku tentang Masjid ini. Buku yang menyajikan data sejarah dan keterangan tentang awal berdirinya Masjid dan perkembangannya dari masa ke masa. Diharapkan dengan buku sejarah tentang Masjid ini dapat membantu pihak-pihak yang berkepentingan untuk mengkaji dan mengenal lebih dekat Masjid Agung Semarang.
Kisah Kewafatan al Habib 'Abdul Qadir bin 'Abdurrahman Assegaf (Ayahanda al Habib Syech bin 'Abdul Qadir Assegaf, Solo) Shaf pertama penuh berdesak-desakan. Habib Abdul Qadir bin Abdurrahman Assegaf mengisyaratkan kepada Habib Najib bin Thoha Assegaf agar maju ke shaf pertama di belakang beliau. Melihat shaf pertama yang telah penuh berdesak-desakkan itu Habib Najib bin Thoha berkata, "Shaf pertama telah penuh, wahai Habib." Mendengar jawaban itu Habib Abdul Qadir menjawab dengan penuh kewibawaan, "Wahai anakku, majulah, kau tak mengetahui maksudku!" Jawaban itu menjadikan Habib Najib bin Thoha spontan maju ke shaf pertama, walaupun harus memaksakan diri mendesak shaf yang telah penuh itu. "Allaahu akbar".

TAHUN 1960, lantai masjid Al-Muhajirin di Pesantren Sirojuth Tholibin, Brabo, Tanggung Harjo-Grobogan, Jawa Tengah, rusak berat. Pengasuh pesantren Kiai Syamsuri risau, karena masjid tersebut pusat syiar Islam. Di sanalah santri dan warga masyarakat berkumpul, untuk sembahyang, ngaji, rapat desa dan sebagainya.
Suatu hari, sang kiai mengutarakan kerisauannya di depan santri dan masyarakat. Intinya, ia menyampaikan bahwa lantai masjid harus segera diperbaiki, dan ia ingin kayu milik Masjid Desa Jragung Demak lama menjadi pengganti lantai masjidnya. Dana terkumpul, dari iuran santri dan jariyah warga Desa Brabo. Tapi belum cukup.
Akhirnya, Kiai Syamsuri ambil “jalan pintas”, yakni menjual kitab Syarah Bukhori setebal 12 jilid kepada Anwar, kala itu pemilik toko Toha Putera di Semarang. Namun, sang kiai bilang kepada Anwar bahwa kitab ini jangan dijual dulu kepada orang lain, karena suatu saat, dirinya akan datang: membeli kembali Syarah Bukhori kesayangannya ini.
Beberapa waktu kemudian, Anwar dikunjungi Kiai Hamid Kajoran Magelang. Biasalah, rumah pemilik toko kitab ada kitab-kitab aneka macam yang tertata rapi. Kiai Hamid pun biasa melihatnya. Tapi hari itu, mata Kiai Hamid tampak terpesona dengan setumpuk kitab teronggok. Tak lain, kitab itu Syarah Bukhori milik Anwar yang dibeli dari Kiai Syamsuri. Kiai Hamid tambah tertarik dengan kitab itu, karena setelah dibuka, semuanya telah diberi makna dengan rapi dan bagus.
“Kang Anwar, buatku saja ya kitab ini,” begitu kira-kira Kiai Hamid meminta. Karena yang meminta Kiai Hamid, maka kitab tadi diberikan secara cuma-cuma.
Lain waktu, Kiai Hamid Kajoran dikunjungi kiai muda bernama A. Baidhowi. Kedua kiai kita ini akrab, hangat, dan saling menghormati. Karena lama tidak berjumpa, Kiai Hamid meminta tamunya menginap. Dalam perbincangannya, Kiai Hamid cerita:
“Gus Dhowi, aku punya kitab.”
“Kitab nopo, Kiai.”
“Syarah Bukhori. Aku minta dari Toha Putra. Tetapi, kitab itu akan saya hadiahkan untuk Sampeyan.”
“Waduh, matur suwun, Kiai.” Tapi Kiai Hamid tidak memberi secara cuma-cuma. Ia meminta mahar dari Kiai Baidhowi.
Malamnya, tuan rumah mempersilakan sang tamu untuk istirahat di kamar pribadinya, di lantai dua. Namun penghormatan Kiai Hamid malah bikin tamunya tidak bisa tidur. Kiai Baidhowi merasa rikuh, di kamar bawah ada kiai yang dihormatinya.
Paginya, Kiai Hamid mengutarakan mahar keinginkannya. Kiai Baidhowi, demi kitab yang disenanginya, menyanggupi mahar.
“Mahar pertama, doakanlah semua anak keturunanku suka dengan tamu,” kata Kiai Hamid mulai menyebutkan keinginannya.
“Mahar kedua, doakan semua anak cucuku bisa haji,” lanjutnya.
“Mahar terakhir,” kata Kiai Hamid, “doakan anak cucuku suka mengaji.”
Dengan rikuh dan keterkejutan yang masih tersimpan, Kiai Baidhowi yang masih mudah berdoa di hadapan Kiai Hamid yang lebih sepuh dan sangat dihormatinya itu. Setelah semuannya selesai, sang tamu pamitan.
Kemudian, Kiai Baqoh Arifin, putra Kiai Hamid, mengantarkan tamunya sampai terminal Magelang, atas perintah ayahandanya.
Diceritakan, dalam perjalanan kitab Syarah Bukhori sempat jatuh. Sesampainya di kediamannya, Pesantren Sirojuth-Tholibin, Brabo, Kiai Baidhowi langsung menemui ayahandanya, Kiai Syamsuri, memberikan kitab yang dikasih Kiai Hamid.
Kiai Syamsuri kaget, ternyata kitab itu adalah kitab yang dulu dijual kepada Anwar . Sambil menangis, ia langsung memeluk kitab tadi. Lalu memeluk Kiai Badhowi, yang tak lain adalah putranya sendiri. Sang anak bingung, “Wonten nopo, Pak?”
***
Kiai Syamsuri lahir pada tanggal 21 April 1906, di Desa Tlogogedong Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Bapaknya bernama KH Dahlan bin Nolo Khoiron, imam dan pemuka agama di desanya. Kakek Syamsuri adalah lurah di Sambak Wonosekar, Demak.
Kehadiran Syamsuri muda di Brabo bermula dari permintaan dua tokoh agama di Brabo Mbah Idris dan Mbah Hasan Hudori, kepada Kiai Syarqowi Tanggung Tanggungharjo. Keduanya meminta kepada Kyai Sarqowi agar “menanamkan” santrinya di desa Brabo. Kyai Syarqowi menunjuk santrinya yang bernama Syamsuri, yang tak lain menantunya, untuk mengabdi dan mengembangkan Islam di Brabo.
Kiai Syamsuri berdakwa dengan pelan-pelan. Pengajian bandongan kecil-kecilan digelar di serambi masjid. Sembari mengetahui seluk beluk warga Brabo, ia berkunjung ke rumah warga. Sifat sabar dan keuletannya, Kiai Syamsuri berhasil mendapat simpati masyarakat Brabo. Akhirnya, jangkauan pengajiannya hingga ke luar desa, dan jama’ah pengajian di serambi masjid makin ramai.
Melihat makin bertambahnya santri, masyarakat mengusulkan untuk mendirikan pesantren. Berdirilah pondok pesantren, dengan nama Sirojuth Tholibin, tahun 1941.
Nama pesantren, selain bermakna lentera penerang para penuntut ilmu, juga dalam rangka “menempelkan kitab” bernama Sirojuth Tholibin karya Syekh Muhammad Ihsan Jampes Kediri. Istilahnya, tabarukan. Kitab Sirajuth Thalibin adalah syarah atas kitab Minhajul ‘Abidin karya Imam Al-Ghozali.
Syamsuri suka belajar agama. Syamsuri kecil sudah ngaji akidah, fiqih, Al-Qur’an. Guru pertamanya ayahnya sendiri, KH Dahlan.
Selanjutnya, ia belajar kepada KH Abdur Rohman di Tlogogedong Demak Jawa Tengah. Ia juga belajar kepada Kiai Irsyad Gablog dan nyantri di Mangkang sertai KH Hasyim Asy’ari di Tebuireng.
Syamsuri muda pernah belajar ngaji Shohih Bukhori dan Shohih Muslim kepada Kiai Hasan Asy’ari di Poncol Bringin Salatiga. Tempat lain yang pernah disinggahi Syamsuri untuk belajar adalah Pesantren Tegalsari, Bringin Salatiga, asuhan Kiai Tholhah.
Di antara ulama yang seangkatan dengan Kiai Syamsuri adalah KH Muslih Mranggen Demak. Bahkan, keduanya sama-sama alumni Pondok Tanggung, di bawah asuhan Kiai Syarqowi.
Ada sebuah kisah tentang Kiai Syamsuri dan Kiai Muslih. Kiai Muslih pernah meminjam kitab Shohih Bukhori kepada Kiai Syamsuri. Lalu, Kiai Syamsuri meminjamkan kitab tersebut dengan mengutus muridnya, Shobari, untuk membawanya ke Mranggen. Konon Shobari membawa kitab tadi dengan dipikul memakai kayu.
Tokoh lain yang seangkatan adalah KH Arwani Kudus (hubungan dalam thoriqoh), KH. Shodaqoh, ayah dari KH Haris Shodaqoh, pengasuh PP Al Itqon Gugen Semarang), KH Nawawi Bringin Slatiga, dan KH Ihsan Brumbung Mranggen Demak.
Dalam hal tarekat, Kiai Syamsuri mengambil sanad dari Kiai Syarqowi, tepatnya tarekat Naqsabandiyah Kholidiyyah. Namun ia tidak diangkat menjadi mursyid, meski kadang ditunjuk sebagai badal. Sebab, Kiai Syamsuri diarahkan untuk lebih berkonsentrasi pada pendidikan santri di pesantren.
Kiai Syamsuri berpulang ke Rahmatullah, bakda Magrib, malam Rabu, 23 Shofar, bertepatan dengan 4 Oktober 1988. (Ditulis ulang oleh Hamzah Sahal dari dan atas seizin www.Sirojuth-Tholibin.net)

MUHAMMAD NA'IM menolak harapan ayahandanya untuk menjadi jawara. Sebab, meski terhormat, ia tidak nyaman menyaksikan ayahandanya sebagai seorang jawara. Na'im kecil menilai ayahandanya, Haji Na'im, hidup dalam ketidakberaturan. mengembara ke pelbagai tempat dan oleh karenanya sering tidak tidur di rumah.
Muhammad Na'im yang lahir tahun 1912 di Cipete-Jakarta Selatan meminta izin kepada ayahandanya untuk memilih belajar ilmu agama. Ayah dan ibunya, Mera, menyetujui permintaan anaknya yang dinilai agak ganjil.
Saat itulah, sejak anak-anak, Na'im gigih mengaji, keliling dari satu mushola ke mushola lainnya, gigih menemui guru-guru yang ada di kampung-kampung Jakarta. Belajar silat ia lakoni juga, namun
Sekedar menggugurkan kewajiban sebagai anak seorang jawara. Haji Na'im meloloskan Muhammad Na'im untuk tidak mengikuti jejeknya, mungkin karena dua anaknya yang lain, Abdul Madjid dan Abdul Karim --keduanya saudara tua Muhammad Na'im-- bener-benar telah mengikutinya sebagai Jawara. Kelak dua anaknya ini menjadi lurah Cipete Utara. Bahkan, nama Abdul Madjid disematkan sebagai nama jalan. Jawara di jaman itu, memang termasuk masuk kelas terhormat.
Memasuki masa remaja, setelah mengkhatamankan Al-Qru’an, Na'im mulai ngaji di luar kampung. Ia pergi agak jauh ke Kuningan-Jakarta Selatan untuk mengaji kepada Guru Mughni dan Guru Makmun bin Sanusi. Ia pergi lebih jauh lagi, ke Cipinang Muara-Jakarta Timur untuk menimba ilmu kepada Guru Marzuki.
Na'im tidak sendirian. Dari Cipete, ia pergi mengaji bersama tiga sahabatnya: Hamim, Raisin, dan Tabrani. Tiga anak ini kakak beradik, ibu mereka bernama Hj. Rohaya, seorang guru ngaji di Cipete.
Dari Guru Mughni dan Guru Makmun, Naim mempelajari nahwu-shoraf, fiqih, akidah, dan tafsir. Diceritakan, Naim tidak hanya pandai menyerap macam-macam ilmu dari para gurunya, tapi ia juga melakoni nasehat-nasehat gurunya. Sopan santun gurunya diikuti, cara mengajar gurunya dicontoh.
Ketika KH Abdurrazaq Makmun baru datang dari Makkah, Naim langsung datang kepadanya.
“Ini ulama masih anget, harus dimintai ilmunya,” begitu kira-kira kata Naim. Guru dan murid ini amat akrab, seperti teman sebaya, hubungannya tidak kaku. Keduanya juga saling menghormati.
Merintis Ekonomi dan Pengajian
Dalam bab mencari penghidupan, Naim juga meniru para gurunya. Ia memelihara dan mengurus ladang pertanian dan empang di tanah miliknya, yang memang luas. Ia menanam pepaya, rambutan, belimbing, melinjo, jambu, dan jeruk. Empangnya diisi ikan tawes dan gurame. Ia juga berternak sapi. Kelak, ketika putra-putrinya berjumlah tiga puluh, semangatnya untuk mandiri dalam kehidupan ekonomiannya bertambah.
Sementara itu, mushala kecil dibangun dekat empang yang juga berdekatan dengan sumber air alami, masyarakat menyebutnya dengan kobakan. Di tempat sederhana itulah Muhammad Naim mengajarkan Al-Qur'an kepada murid-muridnya. Di antara muridnya itu ada seorang pemuda yang bernama Asyari, yang turut membantu mengurus ladangnya. Kelak, pemuda ini diminta membantunya mengajar.
Berkat kesungguhan dan kegigihan di bidang ekonomi, pada tahun 1932 Muhammad Na’im menunaikan ibadah haji. Seperti umumnya para santri yang naik berhaji, ia juga mukim di Makkah untuk mendalami ilmu agama.
Keberangkatan Na'im ke Tanah Suci menjadi kebanggaan keluarga dan masyarakat sekitar. Mereka bahagia karena selama itu belum ada anak Cipete yang menuntut ilmu di luar daerah, apalagi di luar negeri. Mungkin, dari situlah, perlahan-lahan “kelas” ustadz naik, yang di kemudian hari, “mengungguli” kelas jawara.
Ghirah Dakwah
Di Makkah, Na'im belajar kepada para ulama kenamaan, antara lain Syekh Ali Al- Maliki, Sayyid Alwi Al-Maliki, Syekh Umar Hamdan, Syekkh Ahyad Al-Bughuri. Di sana pula ia bertemu dengan santri-santri dari tanah air, antara lain KH Nur Ali Bekasi.Setelah menetap di sana selama tiga tahun, Muhammad Na’im kembali ke kampung halamannya, Cipete.
Pada tahun 1935 ia menikahi seorang qoriah dari Kuningan-Jakarta Selatan, Siti Mardhiyah binti Haji Sarbini. Kemudian ia juga menikahi Saodah Musyaffa, adik kandung kawannya ketika mengaji di Kuningan, yakni Hamim, Raisin dan Tabrani. Istri ketiganya bernama Hj. Masnah binti Mubarok dari Petogogan, sekarang ini Blok A.
Kegiatan dakwah yang dilakukan dirasakannya sangat berat, karena keterbatasan tenaga pendakwah di Cipete. Untuk melancarkan dakwahnya, mushala kecil di tepi empang dipindahkan ke dekat lokasi rumahnya. Mulai saat itu, ia membuka pengajian yang lebih luas tiap malam Senin dan Sabtu siang. Pengajian itu diikuti kaum laki-laki dan perempuan.
Lambat tapi pasti pengajian itu mendapat sambutan dari masyarakat. Jama’ahnya tak hanya datang dari kampung Cipete, melainkan juga dari Pangkalan Jati dan Jagakarsa. Di antara mereka ada yang bermukim di rumah-rumah yang disediakan Na’im.
Undangan untuk mengisi pengajian dari luar kampung pun berdatangan, dari Pedurenan, Cipete Selatan, Cipete Utara dan lain-lain. Waktu itu tidak ada kendaraan bermotor, bahkan ia jarang naik sepeda karena kondisi jalan yang tidak baik. Namun ia tidak patah arang. Ghirahnya berdakwah dilakukan dengan kebahagiaan serta dalam rangka mencari ridla Allah SWT dan mengabdi kepada masyarakat.
Dengan bertambah padatnya kegiatan mengajar, KH. Muhammad Na’im minta bantuan salah satu muridnya, Asy’ari untuk mengajar Al-Qur’an kepada murid-muridnya yang lain.
KH Muhammad Na'im bersama para sahabatnya KH Abdurrazaq Ma’mun, KH. Ahmad Hajar Malisi, KH. Madani dan KH. Syakur Khairi kemudian membangun Madrasah Raudhatul Muta’alimin di daerah Mampang Prapatan. Ide mendirikan madrasah tersebut pada masa itu dianggap maju dan cemerlang, karena sekolah agama Islam masih sangat jarang. Waktu itu di Jakarta baru ada sekolah Jami’at Kheir di Tanah Abang, yang dibangun dan dikelola habaib. Di madrasah itulah, anak-anak Naim bersekolah, seperti Abdul Hayyie dan Aisyah.
Pengalaman membangun dan mengelolah madrasah Raudhatul Muta’alimin kemudian dijadikan bekal oleh KH Muhammad Na’im dalam membangun madrasah Daruttahzib atas swadaya masyarakat di atas tanah wakafnya beserta keluarga di Cipete, begitu juga pembangunan Masjid Annur.
Sibuk mengajar di madrasahnya dan penjadi penceramah di mana-mana, tidak menjadikan Muhammad Naim yang sudah dikenal sebagai Kiai Haji lua belajar. Ia masih datang mengaji kepada Habib Ali Al-Habsyi di Kwitang dan Habib Ali Bungur di Bogor.
Jaringan Ulama
Persahabatannya dengan para ulama terkemuka dan para habib, seperti KH Abdurrazaq Makmun, Habib Ali Kwitang, Habib Ali Bungur serta pengalamannya di Mekkah, telah memperluas cakrawala pemikiran KH Muhammad Naim. Pergaulannya diperluas dengan mengikuti perkembangan pendidikan dan perjuangan kemerdekaan di tanah air.
Dalam pandangannya, kiblat pendidikan agama di tanah air adalah Jawa Timur, khususnya Pesantren Tebuireng pimpinan Hadhratusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari. Maka putra pertamanya Abdul Hayyie pun dikirim ke sana. Namun dia juga mendidik putra-putrinya mendalami ilmu-ilmu lainnya di sekolah umum.
Perkenalannya dengan Hadlratusy Syekh bertambah dekat juga seiring sejalan dengan aktifitasnya di NU. NU pula yang mengenalkan Naim dengan KH Abdul Wahid Hasyim, KH Idham Cholid, KH Anwar Musaddad, KH Ilyas, KH Saifuddin Zuhri, KH Tohir Rohili, KH Mursidi, KH Ishaq Yahya, KH Ahmad Syaichu, KH Abdul Aziz Amin.
Statusnya sebagai salah seorang pengurus Syuriah NU Jakarta menyebabkannya sering menghadiri muktamar-muktamar NU yang diselenggarakan di Jawa maupun di daerah lain, seperti muktamar NU di Surabaya, Bandung, Palembang dan Jakarta.
Pada tahun 1949, bersama KH Abdurrazaq Ma’mun, KH Jumhur menghadiriKongres Muslimin Indonesia di Yogyakarta, pada kesempatan itu bersama KH Abdul Wahid Hasyim, KH Wahab Chasbulloh dan KH Ahmad Dahlan menjadi saksi atas dideklarasikannya pemerintahan Republik Indonesia Serikat.
KH Muhammad Na’im pada 12 Mei 1973 pada usia 61 tahun setelah dirawat empat hari di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta karena menderita penyakit jantung. Jenazahnya dimakamkan di kompleks Masjid Annur Cipete. Seminggu sebelum wafat dia masih sempat meresmikan pembangunan sebuah Mushalla di daerah Pedurenan Jakarta Selatan, yang kemudian diberi nama “Baitun Na’im”. (Abdurrahman Naim, Mantan Musytasyar PCI NU Syiria, tinggal di Jakarta)